Ilustrasi (Ist.)
Jakarta - Tim keamanan Trend Micro menemukan para pengguna internet dalam lebih dari 40
network berbeda
dari Internet Provider dan Universitas Iran, mengandung sertifikat SSL
tiruan yang diterbitkan oleh Diginotar, situs penyedia dan penjual
sertifikat SSL dari Certificate Authority Belanda.
Aksi ini pun ternyata digunakan untuk memata-matai pengguna Internet di Iran dalam skala besar.
Secara
teori, dijelaskan Trend Micro, sertifikat palsu bisa digunakan untuk
mengelabui pengguna agar mengunjungi versi palsu dari sebuah situs web,
atau digunakan untuk memantau komunikasi dengan situs nyata tanpa
memperhatikan pengguna.
Tetapi dalam rangka untuk mengelabuinya
dari sebuah sertifikat palsu, seorang hacker harus mampu mengarahkan
lalu lintas internet sasarannya melalui sebuah server yang dia kontrol.
"Iran
sendiri tidak memiliki Otoritas Sertifikat (Certificate Authority/CA).
Jadi jika melakukannya, mereka hanya bisa mengeluarkan sertifikat nakal
yang diakali," tukas perusahaan keamanan yang berbasis di Jepang
tersebut, dalam keterangannya, Sabtu (17/9.2011).
Namun karena
mereka tidak mempunyainya tentu membutuhkan sertifikat tersebut dari CA
resmi yang bisa dipercaya seperti dari Diginotar. Trend Micro melihat
kejanggalan ini yang membuat situs penyedia sertifikat SSL Diginotar
dipermainkan oleh para hacker di Iran.
Pada Juli-Agustus 2011
lalu, Trend Micro mencatat hacker tersebut berhasil membuat sertifikat
SSL nakal untuk ratusan nama domain, termasuk google.com dan bahkan
seluruh .com tingkat atas. Hal ini sangat berbahaya, karena sertifikat
SSL nakal tersebut diperoleh melalui teknik serangan
man-in-the-middle.
Pada
saat ini hampir ratusan ribu alamat IP yang unik dari Iran meminta
akses ke google.com menggunakan sertifikat palsu yang dikeluarkan oleh
DigiNotar.
"Trend Micro mendeteksi ribuan IP yang unik meminta
ke alamat google.com telah diidentifikasi. Pada 4 Agustus jumlah
permintaan meningkat dengan cepat sampai sertifikat dicabut pada tanggal
29 Agustus," lanjutnya.
Bukti tersebut didasarkan pada data
yang dikumpulkan dari waktu ke waktu berkat Trend Micro Smart Protection
Network yang menunjukkan sertifikat SSL tiruan yang diterbitkan oleh
Diginotar, digunakan untuk memata-matai pengguna internet di Iran dalam
skala besar.
Serangan terhadap Diginotar mirip pada serangan
bulan Maret pada perusahaan keamanan Amerika Serikat yaitu Comodo Inc,
yang juga dikaitkan dengan Iran.
"Beberapa waktu lalu, situs layanan
search engine terbesar
di China Baidu.com dilumpuhkan peretas yang menyebut dirinya dari Iran.
Layanan Baidu.com dilaporkan sempat berhenti gara-gara serangan
tersebut," Trend Micro menandaskan.
Sumber : detiknet